Santap Sahur yang Mempesona....
إنها بركة أعطاكم الّله إيّاها فلا تدعوه
Artinya: Sesungguhnya makan sahur adalah keberkahan yang Allah berikan
kepada kalian, maka janganlah kalian tinggalkan. (HR. Nasāi dan Ahmad)
Selain di bulan Ramadhan, banyak diantara kita telah kehabisan waktu
untuk memekarkan cinta dalam keluarga. Banyak diantara kita, segera
setelah shalat subuh, buru-buru berangkat ke kantor. Tak sempat
berbincang dengan anak yang masih terkantuk-kantuk. Mungkin hanya sempet
mencium rambut atau pipinya, dan langsung ngacir. Malam, saat dia sudah
tidur, kita baru nyampe rumah. Dalam hal waktu benar-benar beda-beda
tipis dengan maling. Pergi saat matahari belum lagi terbit, pulang saat
bulan tepat di atas kepala. Tak banyak yang bisa dilakukan di rumah,
karena letih telah melemahkan badan dan jiwa.
Namun di bulan
ini, ya.. Ramadhan, masih terkantuk-kantuk, kita duduk berkumpul dengan
anak istri menyantap sahur. Kita larut dalam perbincangan kecil tentang
apa saja. Bagi kebanyakan kita, masyarakat kota yang telah dibekap
pekerjaan rutin, ngumpul dengan keluarga seperti ini semakin lama
semakin langka. Ramadhan memberi kita kesempatan untuk menikmati betapa
indahnya berkumpul bersama keluarga. Kita merasakan kembali bahwa kita
tak hidup sendiri. Ada orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita.
Inilah kehangatan keluarga, berkah Ramadhan.
Santap sahur
sangat berbeda dengan makan bersama di resto-resto di mal atau rumah
makan berkelas lainnya. Kita berkumpul dengan pakaian apa adanya,
menikmati makanan yang dimasak istri. Pastilah lebih nikmat, karena ada
cinta, kehangatan, dan ketulusan di dalamnya. Meskipun yang dimasak cuma
tumis kangkung. Lebih indah bagi yang masih punya balita. Tiba-tiba si
balita sudah berdiri di pintu kamar tidur dengan muka ngantuk, dan
ikutan makan sahur, sambil tetap tertidur.
Apakah suasana seperti ini ada di luar Ramadhan?
Santap sahur itu bukan makan biasa. Santap sahur sungguh menyatukan
kita dalam kehangatan keluarga. Karena setelah makan kita tetap bersama
sampai shalat subuh. Kehangatan itu akan bertambah-tambah bila shalat
subuh berjamaah.
Coba ingat dan rasakan kembali, apa
istimewanya santap sahur. Suasana kantuk membuat kita lebih saling
memerhatikan satu sama lain. Akan ada sentuhan mesra sang ayah untuk
membangunkan anak-anak. Betapa lucu wajah anak-anak itu saat bangun
tidur. Inilah pemandangan indah yang hampir tak pernah lagi kita nikmati
di luar Ramadhan. Suasana ini benar-benar membuat kita bersyukur,
betapa sangat baik Allah yang memberi amanah, anak-anak yang
menyenangkan hati. Ramadhan menyadarkan kita, betapa bermakna keluarga.
Keluarga adalah dangau bagi hati yang lelah, keluarga adalah pelangi di
kusamnya warna kehidupan. Intinya, Ramadhan membangkitkan kembali
kehangatan keluarga itu sangat indah dan membahagiakan.
Karena
itu, Ramadhan terasa indah dan syahdu. Ramadhan memberi kesempatan pada
kita untuk secara mendalam menghayati dan menikmati kehangatan keluarga
dalama kebersaan berbuka, sahur dan ibadah yang lain. Entah kenapa
suasana kehangatan itu berbeda jika dibandingkan sebelum dan sesudah
Ramadhan. Bukan berarti tak ada kehangatan di luar Ramadhan, tetapi
kehangatan keluarga saat Ramadhan benar-benar beda.
Ramadhan adalah tungku bagi kebersamaan yang dapat menghangatkan keluarga.
Sumber : https://www.facebook.com/swasto.teguh
Comments
Post a Comment